Powered By Blogger

Friday, September 10, 2010

Gender Ambiguity

Menarik menyaksikan simbol cowok cewek di sebuah kamar kecil sekolah dasar ternama di kota Bandung... simbol yang seharusnya membuat mudah namun ternyata tetap saja membuat bingung










so as the proverb: dont judge the book by its cover so diriku pun memberanikan diri untuk melongok dulu ke dalam apakah toilet ybs minimal punya urinoir di dinding (ultimate sign for male toilet, rite) hahhaha.





 or all about ur personal  matter... are u familiar with sign or word? wkwkkw

Osmanthus Tea: harumnya yang tidak terlupakan

Baru-baru ini dapat kiriman dari teman di singapura satu pak kecil teh osmantus. sejenak terdengar asing di telinga orang Indonesia, maklum saya sendiri juga baru dengar osmanthus tea saat berkunjung ke guilin. Di salah satu kedai teh di sana menghidangkan osmanthus tea, serta beberapa penganan macam koya yang dicampur dengan osmanthus tersebut.
Tidak seperti teh yang biasa kita minum yang berasal dedaunan Camellia sinensis/ assamica, osmanthus tea ini berasal dari kelopak-kelopak kembang osmanthus (Osmanthus fragrans; 桂花, guihua) yang dikeringkan. Kembang-kembangnya ini berwarna kuning dan sangat kecil-kecil. Rasanya belum pernah melihat kembang segar osmanthus di indonesia atau mungkin ada hanya dikenal dengan nama lainnya.

diambil dari wikipedia.com

Penyajian teh osmanthus tersebut seperti teh pada umumnya, satu sendok teh serbuk osmathus dimasukkan ke dalam segelas cangkir lalu diseduh dengan air hangat/panas. Yang sedikit istimewa teh ini selama diseduh sebaiknya diberikan tutup gelas supaya aromanya tetap ada dan dapat dinikmati.

Karena berasal dari kembang, teh tersebut sangat harum. Benar-benar istimewa. Maka tidak heran ada beberapa orang yang menggunakan osmanthus tea itu ke dalam campuran penganan lainnya, misalnya seperti yang ditemui di Guilin, osmanthus tersebut dicampurkan ke dalam koya kacang hijau. Ada juga yang menggunakannya sebagai bahan pencampur pudding atau agar-agar.

Thursday, September 2, 2010

Konfrontasi Indonesia-Malaysia: Kita Ribut, Siapa yg senang?

Ribut-ribut menggelora di seluruh penjuru Indonesia, menyatakan ketidaksenangannya. Nyaris semua media mengipasi untuk segera berperang ddengan Malaysia. Apalagi sudah sekian lama harga diri bangsa terasa terinjak-injak oleh kelakuan negeri jiran. Ya, emosi di satu sisi tapi di sisi lain kita harus bermain bijak dalam menghadapi keadaan. Sama seperti peribahasa hati boleh panas namun kepala harus tetap dingin. 
Ketidakpuasan terhaddap pernyataan presiden yang dinilai lembek oleh kalangan,  sungguh wajar, karena kita rakyat sebagai kritikus abadi dengan mudah gampang mengeluarkan pernyataan dan tidak harus bertanggung jawab. Namun SBY sebagai presiden tentu perlu bijkasana dan hati-hati dalam mengeluarkan pernyataan yang dapat berimplikasi panjang karena statement yang gegabah. Mencuplik pernytaaan Winston Churchil yang menyatakan, mengumumkan perang itu mudah namun setelah itu kita menjadi budak dari perkataan kita, dan akibat perang itu sudah dipastikan rugi, jangan sampai karena terburu nafsu menyatakan perang, kita merugi dan menanggung malu.
Apalagi kita tahun depan kebagian menjadi ketua ASEAN, apatah dikata jika ketua yang berdaulat sedang mengumumkan perang  terhadap salah satu anggotanya sendiri. Maka tampaklah rumpun padi yang terikat itu sedang terbakar dan membara menjadi sekam. 
Baiklah kita sebagai rakyat menahan lidah, berpikiran jernih dan serta berefleksi. Apa gerangan yang saya bisa sumbangsihkan bagi kemajuan negeri ini, supaya besok kelak negara saya akan termuliakan dan harum di seantero negeri? daripada kebakaran jenggot akhirnya asal pukul dan mendapat malu.
Lagi-lagi itu hanyalah pendapat saya. Saya cinta Indonesia dan ingin kita tetap bermartabat dan tidak malu apalagi terjerumus dalam perang yang tidak memberikan keuntungan apapun